Sabtu, 10 November 2012

TANTANGAN PENERAPAN SCM


Meskipun SCM memiliki banyak manfaat dalam menjalankan sistem produksi dan operasi di perusahaan, tetapi ada beberapa tantangan yang harus dihadapi dan disikapi oleh perusahaan apabila akan menerapkannya.Tantangan yang pertama berasal dari lingkungan makro dan juga lingkungan eksternal. Misalnya saja trend perekonomian global yang menunjukkan adanya kecenderungan inflasi, khususnya di Indonesia. Hal ini disebabkan karena persaingan di tingkat global memang sangat meningkat. Selain itu juga kecenderungan perilaku konsumen yang menunjukkan sikap terlalu rumit dan banyak menuntut. Faktor eksternal lain adalah perkembangan teknologi. Perkembangan teknologi yang terkait dengan teknologi informasisedapat mungkin diadaptasi oleh perusahaan-perusahaan yang menerapkan SCM sehingga dapat mengelola informasi yang bergerak sangat cepat untuk menanggapi perpindahan produk.


Selain tantangan-tantangan tersebut, tantangan yang juga sering dihadapi khususnya negara berkembang adalah masalah infrastruktur termasuk birokrasi yang rumit. Masalah ini akan memberikan dampak yang signifikan terhadap tantangan SCM yang lain, yaitu teknologi informasi.Di sisi lain, ada juga tantangan yang dapat digolongkan dalam lingkungan mikro atau di lingkungan perusahaan itu termasuk stakeholdernya. Mengingat sebuah rantai supply chain terdiri dari aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh beberapa perusahaan, maka pengelolaannya tidak mudah. Kompleksitas permasalahan meningkat dengan cepat begitu pertimbangan-pertimbangan aliran produk dan informasi dilihat dalamlingkungan keseluruhan supply chain dari ujung hulu ke ujung hilir. Karena kompleksnya permasalahan pengelolaan tersebut, banyak sekali tantangan yang bisa mengakibatkan kegagalan pengelolaan sebuah supply chain.

           
            Lee & Bilington (1992) mendeskripsikan 14 tantangan yang harus diperhatikan dalam SCM, yaitu:
1.  Pengukuran kinerja yang tidak terdefinisikan dengan baik, setiap chanel menentukan ukuran sendiri-sendiri, dan tidak ada perhatian untuk membuat joint matrics yang mengukur kinerja rantai secara keseluruhan.
2.   Customer service tidak didefinisikan dengan jelas, tidak ada pengukuran terhadap kelambatan respon dalam pelayanan, dan sebagainya.
3.      Status data pengiriman yang tidak akurat dan sering terlambat.
4.      Sistem informasi tidak efisien.
5.      Dampak ketidakpastian diabaikan.
6.   Kebijakan inventori terlalu sederhana, faktor-faktor ketidakpastian tidak diperhitungkan dalam pembuatan kebijakan-kebijakan tersebut,kadang-kadang terlalu statis dan generik.
7.    Diskriminasi terhadap internal customer. Prioritasnya rendah,service levelnya tidak terukur, sistem insentifnya tidak tepat.
8.      Koordinasi antar aktivitas suplai, produksi, dan pengiriman tidak  bagus.
9.      Analisis metode-metode pengiriman tidak lengkap, tidak ada pertimbangan efek persediaan dan waktu respon.
10.  Definisi ongkos-ongkos persediaan tidak tepat.
11.  Ada kendala komunikasi antar organisasi.
12.  Perancangan produk maupun proses tidak memperhitungkan konsep supply chain.
13.  Perancangan dan operasional supply chain dibuat secara terpisah.
14. Supply chain tidak lengkap, fokusnya sering hanya pada operasi internal saja, tidak bisa membedakan antara immediate customer dengan end customers
’.          

Untuk mengatasi tantangan tersebut, terlebih dahulu perusahaan harus melakukan perbaikan dan membangun komitmen di lingkungan internal perusahaan tersebut, baru kemudian membangun kemitraan dan komitmen dengan mata rantai lain di lingkungan eksternal. Satu hal yang juga penting dalam mengatasi tantangan untuk penerapan SCM adalah mengelola informasi dalam sebuah sistem yang harus mendukung proses pengambilan keputusan di wilayah penerapan SCM

Tantangan lain dalam penerapan SCM
u Tantangan 1 : Kompleksitas struktur Supply Chain
            Adanya kompleksitas yang melibatkan internal perusahaan maupun eksternal perusahaan.
            Internal perusahaan contoh : antara bagian marketing dengan produksi, marketing seringkali membuat kesepakatan dengan pelanggan tanpa mengecek secara baik kemampuan produksi, perubahan jadual produksi secara tiba-tiba karena marketing menyepakati perubahan order dengan pelanggan. Disisi lain bagian produksi sering resistant dengan perubahan mendadak.
            Dengan eksternal misalnya antara supplier yang menginginkan pemesanan produknya jauh-jauh hari sebelum waktu pengiriman dan sedapat mungkin pesanan tidak berubah. Supplier juga menginginkan pengiriman segera setelah produksinya selesai.
u Tantangan 2 : Ketidakpastian
            ketidakpastian menimbulkan ketidakpercayaan diri terhadap rencana yang dibuat. Sebagai akibatnya, perusahaan sering menciptakan pengaman di sepanjang supply chain. Pengaman ini bisa berupa safety stock, safety time, atau kapasitas produksi maupun transportasi.
           

            Sumber ketidakpastian yaitu :
      1.   ketidakpastian pembeli,
      2.   ketidakpastian dari supplier yaitu terkait dengan pengiriman, harga, kualitas maupun kuantitas,            
      3. ketidakpastian internal yang bisa disebabkan kerusakan mesin, kinerja mesin yang tidak sempurna, tenaga kerja serta waktu maupun kualitas produksi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar